Bengkelkakimobil – Pernah nggak Anda mengalami momen di mana tiba-tiba lampu ABS menyala di dashboard, atau pedal rem terasa lebih dalam dari biasanya? Atau mungkin setir terasa berat, tidak stabil, atau muncul bunyi aneh saat Anda belok? Rasanya pasti deg-degan, apalagi kalau Anda tidak tahu penyebab pastinya.
Sistem rem dan kemudi adalah dua sistem paling vital yang menyangkut keselamatan berkendara. Kerusakan pada sistem ini bisa berakibat fatal. Akan tetapi, sayangnya mendiagnosis masalah pada kedua sistem ini tidak semudah membalik telapak tangan.
Dulu, mekanik harus melakukan pemeriksaan fisik yang rumit. Untuk sistem rem, mereka harus memeriksa kampas, cakram, kaliper, dan mencari kebocoran. Sementara untuk sistem kemudi, mereka harus memeriksa tie rod, ball joint, rack steer, dan komponen lainnya. Akibatnya, prosesnya lama dan seringkali hanya menemukan masalah yang kasat mata.
Namun sekarang dengan kemajuan teknologi, scanner mobil bisa menjadi alat yang sangat ampuh untuk diagnosis cepat kerusakan sistem rem dan masalah kemudi mobil. Pada mobil modern, kedua sistem ini sudah terintegrasi dengan sensor dan ECU yang bisa dibaca oleh scanner.
Makanya, lewat artikel ini, saya akan membahas scanner mobil: diagnosis cepat untuk kerusakan sistem rem dan kemudi mobil. Lebih jauh, saya akan jelaskan bagaimana scanner bekerja pada kedua sistem ini, apa saja yang bisa Anda deteksi, dan tentu saja manfaatnya bagi keselamatan berkendara Anda.
Mengapa Sistem Rem dan Kemudi Itu Penting?
Sebelum kita bahas peran scanner, mari pahami dulu mengapa kedua sistem ini begitu krusial bagi mobil Anda.
Fungsi Sistem Rem
Sistem rem berfungsi memperlambat dan menghentikan laju kendaraan. Pada mobil modern, sistem rem dilengkapi dengan ABS (Anti-lock Braking System), EBD (Electronic Brake-force Distribution), dan BA (Brake Assist). Semua komponen ini dikendalikan oleh modul elektronik yang disebut ABS Module.
Fungsi Sistem Kemudi
Sistem kemudi berfungsi mengarahkan roda sesuai keinginan pengemudi. Pada mobil modern, sistem kemudi dilengkapi dengan power steering (baik hidrolik maupun elektrik) dan berbagai sensor yang membantu stabilitas kendaraan.
Sensor-Sensor pada Sistem Rem dan Kemudi
Kedua sistem ini dilengkapi dengan berbagai sensor penting. Pertama, sensor kecepatan roda yang memantau putaran masing-masing roda untuk ABS dan ESP. Kedua, sensor tekanan rem yang mengukur tekanan yang diberikan pengemudi pada pedal rem. Ketiga, sensor sudut setir yang membaca seberapa besar Anda membelokkan setir. Selain itu, ada sensor posisi pedal rem yang mendeteksi kapan pedal rem diinjak, serta sensor yaw rate yang mendeteksi gerakan memutar mobil terkait stabilitas.
Akibat Jika Kedua Sistem Bermasalah
Kalau sistem ini bermasalah, akibatnya bisa fatal bagi keselamatan. Pertama, rem blong atau tidak bekerja optimal. Kedua, mobil oleng saat direm karena ABS tidak berfungsi. Ketiga, setir terasa berat atau tidak responsif. Keempat, mobil tidak stabil saat menikung. Dalam kasus terparah, semua ini bisa berujung pada kecelakaan.

Bagaimana Scanner Bekerja pada Sistem Rem dan Kemudi?
Scanner terhubung ke ECU melalui port OBD-II. Perlu Anda pahami, ECU adalah pusat kendali yang menerima data dari berbagai sensor. Pada sistem rem, data dari sensor kecepatan roda, sensor tekanan rem, dan modul ABS dikirim ke ECU. Selanjutnya, scanner membaca data ini dan menampilkannya dalam bentuk yang bisa Anda pahami.
Data yang Bisa Dibaca Scanner untuk Sistem Rem
Untuk sistem rem, scanner bisa membaca berbagai parameter penting. Tabel berikut merangkum parameter tersebut beserta fungsinya:
| Parameter | Fungsi | Nilai Normal |
|---|---|---|
| Wheel Speed FL | Kecepatan roda kiri depan | Sama dengan roda lain |
| Wheel Speed FR | Kecepatan roda kanan depan | Sama dengan roda lain |
| Wheel Speed RL | Kecepatan roda kiri belakang | Sama dengan roda lain |
| Wheel Speed RR | Kecepatan roda kanan belakang | Sama dengan roda lain |
| Brake Switch | Status pedal rem | ON saat diinjak, OFF saat dilepas |
| Brake Pressure | Tekanan rem | 0 saat tidak diinjak |
| ABS Solenoid Status | Status katup ABS | Bervariasi |
| ABS Pump Motor Status | Status motor pompa | ON/OFF |
Data yang Bisa Dibaca Scanner untuk Sistem Kemudi
Untuk sistem kemudi, scanner bisa membaca parameter berikut dengan akurat:
| Parameter | Fungsi | Nilai Normal |
|---|---|---|
| Steering Angle | Sudut setir | 0° saat lurus |
| Steering Torque | Torsi setir | Bervariasi |
| Power Steering Status | Status power steering | ON/OFF |
| Steering Speed | Kecepatan putaran setir | Bervariasi |
1. Kode Error yang Berkaitan dengan Sistem Rem
2. Kode error ABS yang sering muncul:
- C0035: Left Front Wheel Speed Sensor
- C0040: Right Front Wheel Speed Sensor
- C0045: Left Rear Wheel Speed Sensor
- C0050: Right Rear Wheel Speed Sensor
- C0110: Pump Motor Circuit (motor pompa ABS)
- C0121: Valve Relay Circuit
- C0141: Brake Fluid Level Low (level minyak rem rendah)
1. Kode Error yang Berkaitan dengan Sistem Kemudi
2. Kode error sistem kemudi yang sering muncul:
- C1234: Steering Angle Sensor Circuit Malfunction
- C1235: Steering Angle Sensor Not Initialized
- C1604: Steering Angle Sensor Internal Error
- U0126: Lost Communication with Steering Angle Sensor Module

Fungsi Scanner dalam Diagnosis Sistem Rem
Sekarang mari kita bahas secara spesifik bagaimana scanner membantu Anda mendiagnosis masalah sistem rem.
1. Mendeteksi Sensor Kecepatan Roda Rusak
Sensor kecepatan roda adalah komponen yang paling sering bermasalah dalam sistem ABS. Scanner bisa membaca kode error spesifik dan juga menampilkan data kecepatan roda.
Cara diagnosis dengan scanner:
- Pertama, baca kode error, misal C0035 (Left Front Wheel Speed Sensor)
- Kedua, lihat data real-time kecepatan roda saat mobil jalan lurus
- Ketiga, jika roda kiri depan menunjukkan angka 0 atau berbeda jauh, sensor itu rusak
Gejala sensor roda rusak:
- Lampu ABS menyala
- ABS tidak bekerja
- Speedometer mati (pada beberapa mobil)
2. Mendeteksi Motor Pompa ABS Rusak
Motor pompa ABS adalah komponen yang memompa minyak rem untuk memberikan tekanan saat ABS aktif. Jika motor ini rusak, ABS tidak akan berfungsi.
Cara diagnosis dengan scanner:
- Pertama, baca kode error C0110 (Pump Motor Circuit)
- Kedua, lakukan active test untuk menyalakan motor pompa
- Ketiga, jika motor tidak berbunyi, kemungkinan motor rusak
Gejala motor pompa rusak:
- Lampu ABS menyala
- Pedal rem terasa keras atau berdenyut tidak normal
- ABS tidak bekerja
3. Memeriksa Level Minyak Rem
Level minyak rem yang rendah bisa menyebabkan rem tidak bekerja optimal. Scanner bisa membaca data dari sensor level minyak rem.
Cara diagnosis dengan scanner:
- Pertama, baca kode error C0141 (Brake Fluid Level Low)
- Kedua, lihat data real-time level minyak rem
Gejala level minyak rem rendah:
- Lampu rem (bukan ABS) menyala
- Pedal rem terasa lebih dalam dari biasanya
4. Mendeteksi Masalah Saklar Pedal Rem
Saklar pedal rem memberi tahu ECU kapan Anda menginjak rem. Data ini penting untuk sistem ABS, cruise control, dan juga untuk menyalakan lampu rem belakang.
Cara diagnosis dengan scanner:
- Lihat data real-time “Brake Switch”
- Saat pedal diinjak, status harus berubah dari OFF ke ON
Gejala saklar pedal rem rusak:
- Lampu rem belakang tidak menyala saat pedal diinjak
- Cruise control tidak bisa diaktifkan
- Mobil susah dipindahkan dari posisi parkir (pada mobil matic)
5. Melakukan Active Test pada Komponen ABS
Scanner canggih dengan fitur bi-directional control atau active test memungkinkan Anda mengaktifkan komponen ABS secara manual. Fitur ini sangat berguna untuk diagnosis.
Apa yang bisa di-active test?
- Menyalakan motor pompa ABS untuk menguji fungsinya
- Mengaktifkan katup solenoid untuk mendengar bunyi klik
- Melakukan bleeding rem elektronik

Fungsi Scanner dalam Diagnosis Sistem Kemudi
Sekarang mari kita bahas bagaimana scanner membantu Anda mendiagnosis masalah sistem kemudi.
1. Mendeteksi Masalah Steering Angle Sensor
Steering angle sensor adalah komponen kritis yang membaca sudut belok setir. Data ini digunakan oleh ESP, power steering, dan sistem stabilitas lainnya.
Cara diagnosis dengan scanner:
- Pertama, baca kode error C1234 atau C1235
- Kedua, lihat data real-time sudut setir
- Ketiga, saat setir lurus, seharusnya terbaca 0°
Gejala steering angle sensor rusak:
- Lampu ESP menyala
- Power steering tidak bekerja optimal
- Mobil terasa tidak stabil saat menikung
2. Melakukan Kalibrasi Steering Angle Sensor
Setelah mengganti steering angle sensor atau melakukan perbaikan pada sistem kemudi, Anda perlu melakukan kalibrasi ulang. Scanner profesional bisa melakukan fungsi ini.
Mengapa perlu kalibrasi?
- Pertama, agar sensor membaca posisi setir lurus dengan akurat
- Kedua, agar sistem ESP bekerja dengan benar
- Ketiga, untuk menghindari error yang terus muncul
3. Memeriksa Data Real-Time Sistem Kemudi
Scanner canggih bisa menampilkan data real-time dari sistem kemudi. Ini sangat membantu untuk melihat apakah sensor bekerja dengan baik.
Parameter yang bisa dipantau:
- Sudut setir – apakah sesuai dengan posisi setir sebenarnya
- Torsi setir – seberapa keras Anda memutar setir
- Status power steering – apakah power steering aktif
4. Mendeteksi Masalah Komunikasi Modul
Sistem kemudi modern terhubung dengan berbagai modul melalui jaringan CAN. Jika ada masalah komunikasi, scanner akan menampilkan kode error U-code.
Kode error yang mungkin muncul:
- U0126: Lost Communication with Steering Angle Sensor Module
Gejala masalah komunikasi:
- Beberapa sistem tidak berfungsi bersamaan
- Lampu indikator menyala tanpa pola jelas
Studi Kasus: Masalah Rem dan Kemudi yang Dipecahkan dengan Scanner
Agar lebih jelas dan aplikatif, saya berikan beberapa contoh kasus nyata dari bengkel.
Kasus 1: Lampu ABS Menyala, Speedometer Mati
Gejala: Lampu ABS menyala, speedometer tidak bergerak, odometer tidak bertambah.
Langkah Diagnosis dengan Scanner:
- Pertama, saya colokkan scanner dan masuk ke sistem ABS
- Kedua, saya baca kode error: muncul C0035 (Left Front Wheel Speed Sensor)
- Ketiga, saya lihat data real-time kecepatan roda: roda kiri depan menunjukkan 0 km/jam, sementara roda lain normal
Penyebab yang ditemukan: Sensor kecepatan roda kiri depan rusak.
Solusi dan Hasil: Saya ganti sensor kecepatan roda. Setelah diganti, lampu ABS mati dan speedometer kembali normal.
Kasus 2: Lampu ESP Menyala, Setir Tidak Stabil
Gejala: Lampu ESP menyala, setir terasa tidak stabil saat menikung.
Langkah Diagnosis dengan Scanner:
- Pertama, saya colokkan scanner dan masuk ke sistem ESP
- Kedua, saya baca kode error: muncul C1234 (Steering Angle Sensor Malfunction)
- Ketiga, saya lihat data real-time sudut setir: saat setir lurus, sensor membaca 5° ke kanan
Penyebab yang ditemukan: Steering angle sensor perlu dikalibrasi.
Solusi dan Hasil: Saya lakukan kalibrasi steering angle sensor dengan scanner. Setelah dikalibrasi, data sudut setir normal dan lampu ESP mati.
Kasus 3: ABS Tidak Bekerja, Ban Terkunci Saat Rem Mendadak
Gejala: Saat rem mendadak di jalan licin, ban terkunci dan mobil selip.
Langkah Diagnosis dengan Scanner:
- Pertama, saya colokkan scanner dan masuk ke sistem ABS
- Kedua, saya baca kode error: muncul C0110 (Pump Motor Circuit)
- Ketiga, saya lakukan active test pada motor pompa ABS: motor tidak berbunyi sama sekali
Penyebab yang ditemukan: Motor pompa ABS rusak.
Solusi dan Hasil: Saya ganti motor pompa ABS. Setelah diganti, active test menunjukkan motor bekerja normal, ABS berfungsi kembali.
Kasus 4: Rem Belakang Tidak Bekerja Optimal
Gejala: Rem belakang terasa tidak pakem, pedal rem terasa lebih dalam.
Langkah Diagnosis dengan Scanner:
- Pertama, saya colokkan scanner dan masuk ke sistem ABS
- Kedua, saya baca kode error: muncul C0141 (Brake Fluid Level Low)
- Ketiga, saya periksa level minyak rem, ternyata rendah
Penyebab yang ditemukan: Kampas rem belakang aus (pada mobil dengan rem tromol, kampas aus menyebabkan piston keluar dan minyak turun).
Solusi dan Hasil: Saya ganti kampas rem belakang, periksa kebocoran, tambah minyak rem. Setelah itu, kode error hilang dan rem berfungsi normal.
Tabel Ringkasan Masalah Rem dan Kemudi
| Masalah | Kode Error | Parameter Scanner | Tindakan |
|---|---|---|---|
| Sensor roda rusak | C0035-C0050 | Kecepatan roda tidak normal | Ganti sensor |
| Motor pompa ABS rusak | C0110 | Active test tidak respons | Ganti motor pompa |
| Level minyak rem rendah | C0141 | Data level rendah | Periksa kebocoran, tambah minyak |
| Steering angle sensor error | C1234-C1235 | Sudut setir tidak 0° saat lurus | Kalibrasi atau ganti sensor |
| Saklar pedal rem rusak | – | Brake switch tidak berubah | Ganti saklar |
Jenis Scanner untuk Diagnosis Sistem Rem dan Kemudi
Untuk mendiagnosis sistem rem dan kemudi, Anda membutuhkan scanner dengan kemampuan tertentu.
Scanner OBD-II Bluetooth + Aplikasi
Ini pilihan terbaik untuk pemilik mobil rumahan. Harganya berkisar Rp 200-500 ribu. Namun, scanner ini tidak bisa mengakses sistem ABS atau sistem kemudi. Alat ini hanya untuk sistem mesin.
Scanner Multisistem (Mid-Range)
Scanner ini bisa mengakses lebih banyak parameter dan sistem lainnya. Harganya Rp 1,5-3 juta. Contohnya Autel AL619 atau Launch CRP123. Dengan scanner ini, Anda bisa mengakses sistem ABS dan membaca kode error, melihat data real-time kecepatan roda, dan melakukan active test sederhana.
Scanner Profesional
Untuk diagnosis tingkat lanjut, scanner profesional dengan fitur lengkap sangat membantu. Harganya Rp 5-20 juta tergantung merek dan fitur. Alat ini bisa mengakses semua sistem termasuk ABS, ESP, dan power steering, melakukan kalibrasi sensor seperti steering angle sensor, dan melakukan active test pada motor pompa ABS dan katup solenoid.
Tips Memilih Scanner untuk Diagnosis Rem dan Kemudi
1. Pastikan Bisa Akses Sistem ABS dan ESP
Pertama, ini syarat mutlak. Scanner yang hanya bisa membaca sistem mesin tidak akan berguna untuk diagnosis rem dan kemudi. Oleh karena itu, cek spesifikasi scanner dan pastikan mendukung sistem ABS dan ESP.
2. Pilih yang Bisa Melihat Data Real-Time Sensor
Kedua, data real-time sangat penting untuk melihat kecepatan roda dan sudut setir. Scanner yang hanya bisa membaca kode error tidak akan cukup untuk diagnosis yang mendalam.
3. Fitur Active Test
Ketiga, fitur ini sangat berguna untuk menguji motor pompa ABS dan katup solenoid. Dengan active test, Anda bisa memastikan apakah komponen bekerja atau tidak.
4. Fitur Kalibrasi
Keempat, untuk sistem kemudi, fitur kalibrasi sangat penting setelah mengganti steering angle sensor. Pastikan scanner memiliki fitur ini.
5. Update Software
Kelima, pastikan scanner bisa di-update secara berkala untuk mengakomodasi model mobil terbaru.
Analogi Sederhana: Scanner Seperti Dokter Spesialis Jantung dan Saraf
Coba bayangkan sistem rem mobil Anda seperti sistem kardiovaskular manusia, dan sistem kemudi seperti sistem saraf yang mengontrol gerakan. Jika ada gangguan, Anda tentu akan mencari dokter spesialis untuk mendiagnosis.
Scanner mobil berperan seperti dokter spesialis yang bisa memeriksa kedua sistem sekaligus. Alat ini bisa “melihat” aktivitas listrik di sistem rem (seperti EKG) dan membaca “sinyal saraf” dari sistem kemudi.
Dengan scanner di tangan, Anda tidak perlu lagi menebak-nebak apakah masalahnya di sensor roda, motor pompa ABS, atau steering angle sensor. Anda akan tahu persis akar penyebabnya, sehingga bisa melakukan perbaikan yang tepat sasaran dan menjaga keselamatan berkendara.
Kesimpulan
Scanner mobil: diagnosis cepat untuk kerusakan sistem rem dan kemudi mobil adalah alat yang sangat penting, terutama untuk menjaga keselamatan berkendara. Scanner memungkinkan Anda membaca kode error dari sistem ABS/ESP, memantau data real-time sensor kecepatan roda dan sudut setir, mendeteksi masalah sensor, dan melakukan active test pada komponen.
Dengan scanner mobil, diagnosis kerusakan sistem rem dan masalah kemudi mobil menjadi lebih cepat, akurat, dan efisien dibandingkan metode konvensional. Anda bisa mengetahui apakah masalahnya di sensor roda, motor pompa ABS, level minyak rem, atau steering angle sensor tanpa harus membongkar komponen secara fisik.
Investasi scanner yang bisa mengakses sistem chassis memang lebih mahal daripada scanner biasa. Akan tetapi, jumlah ini sebanding dengan biaya perbaikan akibat salah diagnosis. Lebih penting lagi, diagnosis yang akurat dapat mencegah kecelakaan yang bisa membahayakan keselamatan Anda.
Saya telah belasan tahun menggunakan scanner untuk diagnosis sistem rem dan kemudi. Berdasarkan pengalaman tersebut, saya dapat mengatakan dengan yakin bahwa scanner adalah alat yang paling membantu untuk pekerjaan ini. Tanpa keberadaan scanner, saya hanya bisa menebak-nebak dan berharap tebakan saya benar.
Jadi, kalau mobil Anda menunjukkan gejala masalah rem atau kemudi, jangan tunda untuk melakukan diagnosis. Pastikan bengkel yang Anda datangi menggunakan scanner yang bisa mengakses sistem ABS dan ESP. Atau lebih baik lagi, miliki scanner sendiri yang bisa membantu Anda memahami kondisi sistem keselamatan mobil Anda. Percayalah, langkah kecil ini akan menghemat waktu, uang, dan yang terpenting, menjaga keselamatan Anda di jalan.
FAQ
1. Apakah semua scanner bisa membaca kode error ABS?
Tidak semua scanner memiliki kemampuan tersebut. Scanner OBD-II sederhana hanya bisa membaca kode dari sistem mesin. Untuk membaca kode ABS, Anda membutuhkan scanner yang bisa mengakses sistem chassis atau yang mendukung diagnosis sistem rem.
2. Berapa biaya scanner yang cukup untuk diagnosis sistem rem dan kemudi?
Untuk diagnosis dasar, scanner entry-level seperti Autel AL619 atau Launch CRP123 dengan harga Rp 1,5-2,5 juta sudah cukup memadai. Scanner ini sudah bisa membaca kode ABS/ESP, melihat data real-time kecepatan roda, dan melakukan active test sederhana.
3. Apakah scanner bisa mendeteksi keausan kampas rem?
Scanner tidak bisa langsung mendeteksi keausan kampas rem secara fisik. Akan tetapi, pada beberapa mobil, sensor keausan kampas akan mengirim sinyal ke ECU dan scanner bisa membaca kode error terkait. Untuk mobil tanpa sensor, Anda tetap perlu melakukan pemeriksaan fisik.
4. Apakah perlu melakukan kalibrasi setelah mengganti steering angle sensor?
Pada banyak mobil modern, jawabannya adalah ya. Setelah mengganti steering angle sensor, Anda perlu melakukan kalibrasi ulang agar sensor memberikan data yang akurat. Scanner profesional bisa melakukan fungsi kalibrasi ini. Tanpa kalibrasi, sistem ESP mungkin tidak bekerja dengan benar.
5. Apa yang harus saya lakukan jika scanner menunjukkan kode error sensor kecepatan roda?
Pertama, catat kode error yang muncul (misal C0035). Kedua, periksa data real-time kecepatan roda untuk mengkonfirmasi sensor mana yang bermasalah. Ketiga, periksa secara fisik sensor dan kabelnya. Seringkali masalahnya adalah kabel putus atau konektor korosi. Jika sensor benar-benar rusak, Anda perlu menggantinya.

