Bengkelkakimobil – Pernah nggak Anda merasakan mobil tiba-tiba oleng saat diajak belok, atau muncul bunyi “kletek-kletek” setiap kali melewati polisi tidur? Atau mungkin setir terasa tidak stabil dan seperti “mengambang” di kecepatan tinggi? Rasanya pasti deg-degan, apalagi kalau Anda tidak tahu penyebab pastinya.
Masalah suspensi dan stabilisasi memang sering bikin pusing. Dulu, mendiagnosis masalah ini hanya mengandalkan pemeriksaan fisik: mendongkrak mobil, menggoyang-goyang ban, dan mendengarkan suara aneh. Mekanik harus menebak-nebak komponen mana yang aus—apakah ball joint, tie rod, atau shockbreaker. Akibatnya, prosesnya lama dan seringkali hanya menemukan masalah yang kasat mata.
Akan tetapi, sekarang dengan kemajuan teknologi, scanner mobil bisa menjadi alat yang sangat ampuh untuk diagnosis masalah suspensi dan stabilisasi mobil. Pada mobil modern, sistem suspensi dan stabilisasi sudah terintegrasi dengan sensor dan ECU yang bisa dibaca oleh scanner.
Makanya, lewat artikel ini, saya akan membahas menggunakan scanner untuk diagnosis masalah suspensi dan stabilisasi mobil Anda. Lebih jauh, saya akan jelaskan bagaimana scanner bekerja pada sistem ini, apa saja yang bisa Anda deteksi, dan tentu saja manfaatnya bagi Anda sebagai pemilik mobil.

Mengapa Suspensi dan Stabilisasi Itu Penting?
Sebelum kita bahas peran scanner, mari pahami dulu mengapa sistem ini begitu krusial bagi mobil Anda.
Fungsi Utama Suspensi dan Stabilisasi
Sistem suspensi berfungsi menghubungkan bodi mobil dengan roda untuk meredam guncangan sekaligus menjaga kontrol kendaraan tetap optimal. Sementara itu, sistem stabilisasi (termasuk stabilizer bar) bekerja untuk mengurangi limbung atau body roll saat menikung, sehingga mobil tetap seimbang.
Secara sederhana, suspensi memastikan Anda nyaman saat melewati jalan rusak, sedangkan stabilisasi memastikan mobil tidak oleng saat bermanuver. Keduanya bekerja bersama untuk menciptakan pengalaman berkendara yang aman dan menyenangkan.
Komponen Utama yang Mempengaruhi Stabilitas
Sistem suspensi dan stabilisasi modern terdiri dari beberapa komponen penting. Pertama, shock absorber (shockbreaker) yang meredam pantulan pegas agar mobil tidak memantul berlebihan. Kedua, pegas (spring) yang menyerap energi benturan dari permukaan jalan. Ketiga, ball joint yang menjadi penghubung sehingga roda bisa bergerak fleksibel.
Selain itu, ada control arm yang mengatur posisi roda agar tetap pada jalurnya. Stabilizer bar (sway bar) berfungsi mengurangi limbung saat menikung. Bushing meredam getaran dan gesekan antar komponen. Pada mobil modern, berbagai sensor elektronik juga dipasang untuk memantau kondisi suspensi secara real-time.
Akibat Jika Sistem Suspensi dan Stabilisasi Bermasalah
Kalau sistem ini bermasalah, akibatnya bisa fatal bagi keselamatan. Mobil bisa terasa limbung saat menikung, sehingga berisiko keluar jalur. Setir bergetar atau terasa tidak stabil di kecepatan tinggi. Muncul bunyi aneh seperti “kletek-kletek” dari kolong mobil. Ban aus tidak merata, yang memperpendek umur ban dan mengurangi traksi. Mobil memantul berlebihan setelah melewati polisi tidur. Bahkan, posisi mobil bisa miring sebelah sebagai indikasi per lemah atau shockbreaker bocor.

Evolusi Sistem Suspensi: Dari Mekanis ke Elektronik
Untuk memahami bagaimana scanner membantu diagnosis, Anda perlu tahu bahwa sistem suspensi modern telah berevolusi secara signifikan.
Suspensi Konvensional (Pasif)
Pada mobil lawas, suspensi sepenuhnya mekanis. Komponen seperti shockbreaker, pegas, ball joint, dan tie rod bekerja tanpa campur tangan elektronik. Akibatnya, diagnosis kerusakan hanya mengandalkan pemeriksaan fisik semata.
Suspensi Adaptif dan Elektronik
Seiring perkembangan teknologi, pabrikan mulai menambahkan sensor dan aktuator pada sistem suspensi. Mobil modern kini dilengkapi dengan berbagai sensor yang memantau kondisi jalan dan gerakan bodi secara real-time.
Suspensi adaptif dapat menyesuaikan tingkat redaman secara otomatis berdasarkan kondisi jalan dan gaya berkendara. Sistem ini menggunakan sensor elektronik yang terintegrasi dengan mekanisme suspensi konvensional. Teknologi ini biasanya terdapat pada mobil kelas menengah ke atas, seperti beberapa model dari BMW, Audi, Mercedes-Benz, hingga Toyota di lini premium-nya.
Suspensi Aktif dengan Kecerdasan Buatan
Teknologi terkini bahkan menghadirkan suspensi aktif yang dikendalikan oleh pusat komputasi cerdas. Contohnya adalah teknologi DiSus dari BYD yang mengintegrasikan tiga lapisan pintar: Perception Layer, Decision Layer, dan Execution Layer.
Pada sistem ini, berbagai sensor seperti acceleration sensor dan ride height sensor memantau kondisi jalan secara real-time. Data kemudian dikirim ke pusat kendali yang memproses informasi dalam hitungan milidetik untuk menentukan respons suspensi yang tepat.

Sensor-Sensor yang Mempengaruhi Stabilitas dan Bisa Dibaca Scanner
Untuk memahami bagaimana scanner membantu diagnosis stabilitas, Anda perlu tahu sensor-sensor yang berperan penting pada mobil modern.
Acceleration Sensor (Sensor Akselerasi)
Sensor ini mendeteksi percepatan, deselerasi, dan getaran kendaraan saat melewati jalan tidak rata. Data dari sensor ini kemudian digunakan untuk menyesuaikan tingkat redaman suspensi pada mobil dengan suspensi adaptif.
Ride Height Sensor (Sensor Ketinggian)
Sensor ini memantau ketinggian mobil dari permukaan jalan. Pada mobil dengan air suspension atau suspensi adaptif, sensor ini sangat penting untuk menjaga ketinggian tetap stabil meski beban berubah. Pada beberapa sistem, mekanik bahkan bisa mengukur ketinggian aktual dan memasukkannya ke dalam control unit menggunakan scanner.
Steering Angle Sensor (Sensor Sudut Setir)
Sensor ini membaca seberapa besar sudut belok setir. Data ini sangat penting untuk sistem stabilitas seperti ESP dan juga untuk suspensi adaptif. Jika sensor ini tidak dikalibrasi dengan benar setelah perbaikan, bisa menyebabkan berbagai masalah pada sistem stabilitas.
Yaw Rate Sensor
Sensor ini mendeteksi gerakan memutar mobil pada sumbu vertikal. Informasi ini penting untuk sistem stabilitas seperti ESP.
Wheel Speed Sensor (Sensor Kecepatan Roda)
Meski lebih dikenal untuk ABS, sensor ini juga digunakan oleh sistem stabilitas dan suspensi adaptif untuk mendeteksi kondisi jalan dan potensi selip.
Apa yang Bisa Dideteksi Scanner pada Sistem Suspensi dan Stabilisasi?
Sekarang mari kita bahas apa saja yang bisa dideteksi scanner terkait masalah suspensi dan stabilisasi.
1. Kode Error dari Sistem Suspensi Elektronik
Pada mobil dengan suspensi elektronik atau adaptif, ECU akan menyimpan kode error ketika mendeteksi masalah. Scanner yang bisa mengakses sistem suspensi (biasanya melalui menu “Suspension”, “Air Suspension”, atau “Chassis Control”) dapat membaca kode-kode ini.
Contoh kode error yang mungkin muncul:
- Masalah pada ride height sensor
- Kerusakan acceleration sensor
- Kegagalan kompresor air suspension
- Kebocoran pada sistem air suspension
- Masalah komunikasi antar modul
2. Data Real-Time dari Sensor Suspensi
Scanner canggih bisa menampilkan data real-time dari sensor-sensor suspensi. Melalui fitur ini, Anda bisa melihat beberapa parameter penting. Pertama, ketinggian mobil per roda untuk mengetahui apakah semua roda memiliki ketinggian yang sama. Kedua, akselerasi vertikal untuk melihat seberapa besar guncangan yang terjadi. Ketiga, sudut setir untuk memastikan sensor setir bekerja dengan baik. Keempat, status redaman suspensi untuk mengetahui respons shockbreaker elektronik.
3. Masalah pada Sensor ABS yang Mempengaruhi Stabilitas
Menariknya, masalah pada sensor kecepatan roda (yang biasanya terkait ABS) juga bisa mempengaruhi sistem stabilitas. Pasalnya, banyak sistem ESP dan suspensi adaptif menggunakan data kecepatan roda untuk menyesuaikan redaman.
Jika sensor kecepatan roda rusak atau memberikan data salah, sistem stabilitas bisa bekerja tidak optimal. Dalam situasi ini, scanner yang bisa membaca kode error ABS dapat membantu mendeteksi masalah tersebut.
4. Kalibrasi Ulang Setelah Perbaikan
Setelah mengganti komponen suspensi elektronik seperti ride height sensor, acceleration sensor, atau steering angle sensor, Anda perlu melakukan kalibrasi ulang. Untuk keperluan inilah scanner profesional bisa melakukan fungsi ini.
Sebagai contoh, setelah mengganti sensor ketinggian pada mobil dengan self-leveling suspension, Anda perlu mengukur ketinggian aktual dan memasukkannya ke control unit menggunakan scanner. Tanpa kalibrasi, sistem suspensi tidak akan bekerja dengan benar.
5. Membaca Data dari Sistem Stabilitas (ESP)
Sistem stabilitas seperti ESP (Electronic Stability Program) menggunakan data dari berbagai sensor. Scanner dapat mengakses sistem ini dan membaca kode error yang tersimpan. Masalah pada sensor yaw rate atau steering angle sensor biasanya akan terekam di sini.
Keterbatasan Scanner untuk Suspensi Konvensional
Perlu Anda pahami, scanner tidak bisa mendeteksi semua masalah suspensi. Untuk komponen mekanis seperti ball joint, tie rod, shockbreaker konvensional, atau bushing yang aus, scanner tidak akan langsung memberi tahu ada masalah.
Meski demikian, ada beberapa cara di mana scanner tetap membantu. Pertama, mengkonfirmasi diagnosis fisik. Anda bisa melakukan pemeriksaan fisik seperti yang biasa dilakukan mekanik, misalnya dengan mendongkrak ban, menggoyang-goyang ban untuk cek ball joint dan tie rod, atau menekan bodi mobil untuk cek shockbreaker. Setelah itu, Anda bisa menggunakan scanner untuk memastikan tidak ada masalah elektronik yang menyertai.
Kedua, membaca data dari sistem stabilitas. Sistem stabilitas seperti ESP menggunakan data dari suspensi. Jika ada masalah pada komponen suspensi yang mempengaruhi stabilitas, sistem ESP bisa menyimpan kode error. Contohnya, jika mobil terasa limbung karena shockbreaker lemah, sensor yaw rate mungkin mendeteksi gerakan yang tidak normal. Meski tidak langsung menunjukkan “shockbreaker rusak”, scanner bisa memberi petunjuk melalui data yang tidak normal.
Tanda-Tanda Masalah Suspensi yang Perlu Anda Ketahui
Sebelum menggunakan scanner, Anda perlu tahu tanda-tanda umum masalah suspensi. Berikut beberapa gejala yang sering muncul.
Tanda Fisik yang Bisa Diamati
Pertama, kebocoran minyak di sekitar shock absorber. Jika ada cairan yang merembes, itu bisa menjadi tanda bahwa peredam kejut sudah bocor. Kedua, ban aus tidak merata, misalnya hanya bagian dalam atau luar saja. Hal ini menunjukkan adanya masalah pada penyelarasan roda atau suspensi. Ketiga, mobil memantul lebih dari 2-3 kali saat ditekan dan dilepaskan. Ini menandakan shockbreaker sudah lemah. Keempat, posisi mobil miring sebelah sebagai indikasi per lemah atau shockbreaker rusak.
Tanda Saat Berkendara
Pertama, mobil terasa limbung atau terlalu bergoyang saat melewati jalan bergelombang. Kedua, suara keras atau berderak saat melintasi lubang atau polisi tidur. Ketiga, setir terasa tidak stabil atau muncul getaran. Keempat, muncul bunyi aneh seperti “kletek-kletek” dari area roda atau bawah mobil. Bunyi benturan logam bisa berasal dari ball joint atau tie rod yang aus.
Langkah-Langkah Diagnosis Suspensi dengan Scanner
Berikut langkah praktis menggunakan scanner untuk membantu diagnosis suspensi.
Langkah 1: Cari Tahu Apakah Mobil Anda Punya Suspensi Elektronik
Pertama, cek buku manual atau stiker di bawah kap mesin. Apabila mobil Anda dilengkapi dengan fitur seperti “Adaptive Suspension”, “Air Suspension”, atau “Electronic Damping Control”, maka ada kemungkinan sistem suspensi terhubung ke ECU.
Langkah 2: Gunakan Scanner yang Tepat
Kedua, perlu diingat bahwa tidak semua scanner bisa mengakses sistem suspensi. Scanner OBD-II sederhana biasanya hanya untuk mesin. Oleh karena itu, Anda butuh scanner yang bisa mengakses sistem chassis atau suspensi.
Langkah 3: Scan Kode Error
Ketiga, masuk ke menu sistem suspensi atau chassis control. Baca kode error yang tersimpan. Catat kode-kode yang muncul, biasanya diawali huruf “C” (Chassis).
Langkah 4: Lihat Data Real-Time
Keempat, periksa data dari sensor-sensor suspensi. Perhatikan apakah ada anomali seperti perbedaan ketinggian antar roda, nilai sensor yang stuck atau tidak berubah, atau data yang tidak masuk akal (misal akselerasi vertikal terlalu tinggi).
Langkah 5: Kombinasikan dengan Pemeriksaan Fisik
Kelima, lakukan pemeriksaan fisik seperti yang dijelaskan sebelumnya. Goyang-goyang ban untuk cek ball joint dan tie rod. Tekan bodi mobil untuk cek shockbreaker. Dengarkan suara aneh saat test drive.
Langkah 6: Verifikasi Perbaikan
Terakhir, setelah mengganti komponen yang rusak, gunakan scanner untuk menghapus kode error dan memastikan tidak ada kode baru yang muncul. Jika perlu, lakukan kalibrasi ulang untuk sensor yang baru diganti, terutama pada steering angle sensor.
Studi Kasus: Masalah Suspensi yang Dipecahkan dengan Scanner
Agar lebih jelas, saya berikan beberapa contoh kasus nyata.
Kasus 1: Mobil dengan Air Suspensi yang Ambrol
Gejala: Mobil terlihat miring ke satu sisi, kompresor sering bunyi tapi mobil tidak naik.
Langkah Diagnosis dengan Scanner:
- Pertama, saya masuk ke sistem air suspension dan membaca kode error. Muncul kode yang menunjukkan kebocoran di sistem.
- Kedua, saya lihat data real-time tekanan udara. Tekanan turun cepat saat kompresor mati.
Penyebab yang ditemukan: Selang air suspension bocor.
Solusi dan Hasil: Saya perbaiki kebocoran dan ganti komponen yang rusak. Setelah itu, saya kalibrasi ulang ketinggian dengan scanner. Mobil kembali normal.
Kasus 2: Lampu ESP Menyala, Mobil Terasa Limbung
Gejala: Lampu ESP menyala, mobil terasa tidak stabil saat menikung.
Langkah Diagnosis dengan Scanner:
- Pertama, saya baca kode error di sistem ESP. Muncul kode yang berkaitan dengan steering angle sensor.
- Kedua, saya lihat data real-time sudut setir. Saat setir lurus, sensor membaca 5° ke kanan.
Penyebab yang ditemukan: Steering angle sensor perlu dikalibrasi ulang.
Solusi dan Hasil: Saya lakukan kalibrasi steering angle sensor dengan scanner. Setelah dikalibrasi, data sudut setir normal dan lampu ESP mati.
Kasus 3: Suspensi Adaptif Terlalu Keras
Gejala: Suspensi terasa sangat keras meski sudah di setelan comfort.
Langkah Diagnosis dengan Scanner:
- Pertama, saya baca kode error. Tidak ada kode yang muncul.
- Kedua, saya lihat data real-time dari acceleration sensor. Sensor membaca getaran yang tidak normal.
- Ketiga, saya bandingkan dengan data dari mobil sejenis. Ternyata sensor terlalu sensitif.
Penyebab yang ditemukan: Acceleration sensor perlu dikalibrasi.
Solusi dan Hasil: Saya lakukan kalibrasi ulang acceleration sensor dengan scanner. Suspensi kembali nyaman.
Jenis Scanner untuk Diagnosis Suspensi
Untuk bisa mendiagnosis sistem suspensi, Anda butuh scanner dengan kemampuan tertentu.
Scanner OBD-II Bluetooth + Aplikasi
Ini pilihan terbaik untuk pemilik mobil rumahan. Harganya berkisar Rp 200-500 ribu. Dengan aplikasi Torque (Android) atau OBD Fusion (iOS), Anda bisa membaca data dasar seperti RPM dan kecepatan. Akan tetapi, scanner ini tidak bisa mengakses sistem suspensi.
Kekurangan: Tidak bisa membaca kode error sistem suspensi atau data sensor spesifik.
Scanner Multisistem (Mid-Range)
Scanner ini bisa mengakses lebih banyak parameter dan sistem lainnya. Harganya Rp 1,5-3 juta. Contohnya Autel AL619 atau Launch CRP123. Dengan scanner ini, Anda bisa mengakses sistem ABS, ESP, dan beberapa sistem suspensi dasar.
Scanner Profesional dengan Akses Chassis Penuh
Untuk diagnosis suspensi tingkat lanjut, scanner profesional dengan fitur lengkap sangat membantu. Harganya Rp 5-20 juta tergantung merek dan fitur. Alat ini bisa mengakses semua sistem termasuk suspensi elektronik, melakukan kalibrasi sensor seperti steering angle sensor, membaca data real-time dari acceleration sensor dan ride height sensor, serta melakukan active test pada komponen suspensi.
Tips Memilih Scanner untuk Diagnosis Suspensi
1. Pastikan Bisa Akses Sistem Chassis
Pertama, ini adalah syarat mutlak. Scanner yang hanya bisa membaca sistem mesin tidak akan berguna untuk diagnosis suspensi. Oleh karena itu, cek spesifikasi scanner dan pastikan mendukung sistem ABS, ESP, dan suspensi elektronik.
2. Pilih yang Bisa Lihat Data Real-Time Sensor
Kedua, data real-time sangat penting untuk melihat akselerasi vertikal, ketinggian roda, dan sudut setir. Scanner yang hanya bisa membaca kode error tidak akan cukup untuk diagnosis yang mendalam.
3. Cari yang Punya Fitur Kalibrasi
Ketiga, untuk mobil dengan suspensi elektronik, fitur kalibrasi sangat penting setelah mengganti sensor seperti steering angle sensor. Pastikan scanner pilihan Anda memiliki fitur ini.
4. Perhatikan Update Software
Keempat, mobil baru terus bermunculan dengan sistem suspensi yang semakin canggih. Pastikan scanner bisa di-update secara berkala untuk mengakomodasi model-model terbaru.
Analogi Sederhana: Scanner Seperti Dokter Spesialis Saraf
Coba bayangkan sistem suspensi mobil Anda seperti sistem saraf manusia. Dulu, dokter hanya bisa meraba dan menanyakan gejala untuk mendiagnosis penyakit saraf. Akan tetapi, sekarang dengan alat seperti EEG atau MRI, dokter bisa melihat langsung aktivitas otak dan saraf.
Scanner mobil berperan seperti alat pencitraan canggih untuk sistem suspensi Anda. Alat ini bisa “melihat” apa yang terjadi di dalam sistem elektronik, membaca data dari sensor-sensor, dan mendeteksi masalah yang tidak terlihat secara fisik.
Dengan scanner di tangan, Anda tidak perlu lagi menebak-nebak apakah masalahnya di sensor ketinggian, acceleration sensor, atau hanya sekadar komponen mekanis yang aus. Anda akan tahu persis akar penyebabnya, sehingga bisa melakukan perbaikan yang tepat sasaran.
Kesimpulan
Menggunakan scanner untuk diagnosis masalah suspensi dan stabilisasi mobil Anda adalah langkah cerdas, terutama jika mobil Anda dilengkapi dengan suspensi elektronik atau adaptif. Scanner memungkinkan Anda membaca kode error dari sistem suspensi, memantau data real-time sensor, dan melakukan kalibrasi ulang setelah perbaikan.
Dengan scanner mobil, diagnosis masalah suspensi menjadi lebih cepat, akurat, dan efisien dibandingkan metode konvensional. Anda bisa mengetahui apakah masalahnya di sensor ketinggian, acceleration sensor, steering angle sensor, atau hanya komponen mekanis yang aus.
Stabilisasi mobil yang optimal adalah kunci keselamatan berkendara. Dengan diagnosis yang tepat, Anda bisa memastikan mobil tetap stabil, nyaman, dan aman dalam segala kondisi jalan.
Investasi scanner yang bisa mengakses sistem chassis memang lebih mahal daripada scanner biasa. Akan tetapi, jumlah ini sebanding dengan biaya perbaikan akibat salah diagnosis. Dalam satu atau dua kali perbaikan yang tepat, investasi Anda sudah akan kembali berkali-kali lipat.
Saya telah melihat sendiri bagaimana scanner membantu menghemat waktu dan uang pelanggan dalam mendiagnosis masalah suspensi. Dari yang tadinya harus mengganti seluruh unit air suspension (puluhan juta), cukup dengan mengganti sensor atau melakukan kalibrasi ulang. Perbedaannya hanya terletak pada diagnosis yang akurat.
Jadi, kalau mobil Anda menunjukkan gejala masalah suspensi atau stabilitas, dan mobil Anda termasuk jenis yang menggunakan suspensi elektronik, pastikan bengkel yang Anda datangi menggunakan scanner yang memadai. Atau lebih baik lagi, miliki scanner sendiri yang bisa membantu Anda memahami kondisi sistem suspensi mobil Anda. Percayalah, langkah kecil ini akan menghemat waktu, uang, dan yang terpenting, menjaga keselamatan Anda di jalan.
FAQ
1. Apakah semua mobil bisa di-scan untuk sistem suspensinya?
Tidak semua. Mobil dengan suspensi konvensional (mekanis) tidak memiliki sensor elektronik yang bisa dibaca scanner. Hanya mobil dengan suspensi elektronik, air suspension, adaptif, atau sistem stabilitas yang terintegrasi yang bisa di-scan. Biasanya mobil-mobil keluaran terbaru atau kelas menengah ke atas sudah dilengkapi fitur ini.
2. Scanner apa yang dibutuhkan untuk diagnosis suspensi?
Anda butuh scanner yang bisa mengakses sistem chassis, seperti ABS, ESP, dan suspensi elektronik. Scanner OBD-II sederhana tidak cukup untuk keperluan ini. Pilih scanner profesional atau semi-profesional seperti Autel, Launch, atau TopScan yang mendukung berbagai sistem dan merek mobil. Harganya bervariasi, mulai dari Rp 1,5 juta hingga puluhan juta.
3. Apakah scanner bisa mendeteksi ball joint atau tie rod yang aus?
Tidak langsung. Scanner tidak bisa membaca keausan komponen mekanis seperti ball joint atau tie rod. Akan tetapi, scanner bisa membantu dengan membaca data dari sistem stabilitas yang mungkin terpengaruh oleh kerusakan tersebut. Untuk komponen mekanis, Anda tetap perlu melakukan pemeriksaan fisik seperti menggoyang-goyang ban.
4. Apakah perlu melakukan kalibrasi setelah mengganti sensor suspensi?
Pada banyak mobil modern, jawabannya adalah ya. Setelah mengganti sensor seperti steering angle sensor, ride height sensor, atau acceleration sensor, Anda perlu melakukan kalibrasi ulang agar sensor memberikan data yang akurat. Scanner profesional bisa melakukan fungsi kalibrasi ini. Tanpa kalibrasi, sistem stabilitas mungkin tidak bekerja dengan benar.
5. Berapa biaya perbaikan jika sensor suspensi elektronik rusak?
Biaya sangat bervariasi tergantung jenis mobil dan sensor yang rusak. Untuk mobil umum, sensor ride height atau acceleration sensor bisa Rp 1-3 juta. Sementara untuk mobil Eropa mewah, bisa mencapai Rp 5-15 juta. Meski demikian, jumlah ini jauh lebih murah daripada mengganti seluruh unit suspensi yang bisa mencapai puluhan juta.

