Bengkelkakimobil – Pernah nggak Anda mengalami momen di mana mobil tiba-tiba brebet, susah distarter, atau terasa kehilangan tenaga? Seringkali masalah ini berkaitan dengan sistem pengapian. Tapi sayangnya, mendiagnosis masalah pengapian tidak semudah membalik telapak tangan.
Dulu, mekanik harus memeriksa satu per satu komponen pengapian: busi, koil, kabel busi, dan timing. Mereka menggunakan alat seperti timing light dan spark tester. Prosesnya lama, melelahkan, dan seringkali hanya mengandalkan tebakan.
Akan tetapi, sekarang dengan kemajuan teknologi, scanner mobil bisa membantu mendiagnosis sistem pengapian dengan lebih cepat dan akurat. Alat ini bekerja dengan cara “mengobrol” dengan ECU dan membaca data dari berbagai sensor yang berkaitan dengan pengapian.
Makanya, lewat artikel ini, saya akan membahas memahami cara kerja scanner mobil dalam mendiagnosis kerusakan sistem pengapian. Lebih jauh, saya akan jelaskan bagaimana scanner membaca data pengapian, parameter apa saja yang perlu diperhatikan, dan tentu saja manfaatnya bagi Anda.

Mengapa Sistem Pengapian Itu Kritis?
Sebelum kita bahas cara kerja scanner, mari pahami dulu mengapa sistem pengapian begitu penting bagi performa mesin.
Fungsi Utama Sistem Pengapian
Sistem pengapian bertugas menghasilkan percikan api pada busi di waktu yang tepat untuk membakar campuran udara dan bahan bakar. Perlu Anda pahami, tanpa pengapian yang sempurna, mesin tidak akan bekerja optimal. Lebih jauh lagi, sistem ini juga mempengaruhi efisiensi bahan bakar dan emisi gas buang.
Komponen Utama Sistem Pengapian
Sistem pengapian modern terdiri dari beberapa komponen penting yang saling terkait. Pertama, busi yang menghasilkan percikan api di ruang bakar. Kedua, koil pengapian yang menaikkan tegangan listrik untuk busi. Ketiga, kabel busi yang menyalurkan tegangan tinggi dari koil ke busi. Selain itu, ada sensor posisi poros engkol (CKP) yang memberi tahu ECU posisi piston, serta sensor posisi poros cam (CMP) yang memberi tahu ECU posisi katup. Tak ketinggalan, ignition module yang mengontrol timing pengapian pada beberapa mobil, dan ECU sebagai otak yang mengatur timing pengapian berdasarkan data sensor.
Akibat Sistem Pengapian Bermasalah
Kalau sistem pengapian bermasalah, akibatnya bisa fatal bagi performa mesin. Mesin bisa mengalami misfire atau pembakaran tidak sempurna yang menyebabkan mesin brebet. Tenaga turun sehingga akselerasi terasa lambat dan mobil seperti kehilangan tenaga. Boros BBM karena pembakaran tidak efisien dan bahan bakar terbuang percuma. Susah distarter terutama saat mesin dingin atau pagi hari. Dalam kasus parah, mesin bisa mati mendadak di tengah jalan yang tentu sangat berbahaya.

Bagaimana Scanner Bekerja pada Sistem Pengapian?
Scanner terhubung ke ECU melalui port OBD-II. Perlu Anda pahami, ECU menerima data dari berbagai sensor, termasuk sensor yang berkaitan dengan sistem pengapian. Selanjutnya, scanner membaca data ini dan menampilkannya dalam bentuk yang bisa dipahami manusia. Proses ini terjadi dalam hitungan detik, sehingga diagnosis menjadi sangat cepat.
Data yang Bisa Dibaca Scanner untuk Sistem Pengapian
Untuk diagnosis sistem pengapian, scanner bisa membaca berbagai parameter penting. Tabel berikut merangkum parameter tersebut beserta fungsinya:
| Parameter | Fungsi | Nilai Normal |
|---|---|---|
| Engine RPM | Putaran mesin | 650-850 rpm idle |
| Ignition Timing | Timing pengapian | 5-15° BTDC idle |
| Misfire Counter | Hitungan misfire per silinder | 0 (idealnya) |
| Camshaft Position | Posisi poros cam | Data digital |
| Crankshaft Position | Posisi poros engkol | Data digital |
| Knock Sensor | Deteksi knocking | 0 (idealnya) |
| Calculated Load Value | Beban mesin | 0-100% |
Kode Error yang Berkaitan dengan Sistem Pengapian
Beberapa kode error yang sering muncul terkait sistem pengapian perlu Anda kenali dengan baik. Untuk masalah misfire, Anda mungkin melihat P0300 yang menandakan misfire acak, atau P0301 hingga P0308 yang menunjukkan misfire di silinder tertentu. Sementara itu, masalah sensor posisi ditandai dengan P0335-P0339 untuk sensor CKP dan P0340-P0349 untuk sensor CMP.
Di sisi lain, masalah sistem pengapian seperti koil rusak tercermin dalam kode P0350-P0360. Masalah sensor ketukan (knock sensor) ditandai dengan P0325-P0334. Untuk masalah timing yang berkaitan dengan sistem VVT, kode P0010-P0018 sering muncul sebagai indikasi adanya gangguan.

Cara Kerja Scanner dalam Mendiagnosis Sistem Pengapian
Sekarang mari kita bahas secara spesifik bagaimana scanner bekerja untuk mendiagnosis masalah sistem pengapian. Pemahaman ini akan membantu Anda menggunakan scanner dengan lebih efektif.
1. Mendeteksi Misfire dengan Misfire Counter
Salah satu fitur paling penting dari scanner untuk diagnosis pengapian adalah misfire counter. Fitur ini menampilkan jumlah misfire yang terjadi di setiap silinder secara real-time.
Bagaimana cara kerjanya?
ECU memantau putaran poros engkol menggunakan sensor CKP. Ketika terjadi misfire di satu silinder, putaran poros engkol akan melambat sesaat. ECU kemudian mendeteksi perlambatan ini dan mencatatnya sebagai misfire di silinder tersebut. Proses ini berlangsung terus-menerus selama mesin hidup.
Apa yang bisa Anda lihat di scanner?
Scanner akan menampilkan misfire counter per silinder dalam bentuk angka. Sebagai contoh, Anda mungkin melihat data seperti ini:
- Silinder 1: 0 misfire
- Silinder 2: 125 misfire
- Silinder 3: 0 misfire
- Silinder 4: 0 misfire
Dari data ini, Anda langsung tahu bahwa silinder 2 mengalami misfire. Dengan demikian, Anda bisa fokus memeriksa busi, koil, atau injector di silinder 2 tanpa perlu membuang waktu pada komponen lain.
2. Membaca Timing Pengapian (Ignition Timing)
Timing pengapian adalah saat percikan api terjadi, diukur dalam derajat sebelum Titik Mati Atas (BTDC). Timing yang tepat sangat penting untuk performa dan efisiensi mesin. Oleh karena itu, memantau timing pengapian menjadi langkah krusial dalam diagnosis.
Bagaimana scanner membaca timing?
ECU menghitung timing pengapian berdasarkan data dari sensor CKP, CMP, dan beban mesin. Selanjutnya, scanner menampilkan timing aktual yang terjadi dalam derajat. Data ini bisa Anda lihat secara real-time sambil menjalankan mesin.
Apa yang bisa Anda lihat?
- Saat idle, timing biasanya 5-15° BTDC tergantung spesifikasi mobil.
- Saat akselerasi, timing akan maju (lebih tinggi) sesuai kebutuhan tenaga.
- Saat beban berat, timing mungkin dimundurkan untuk mencegah knocking.
Apa artinya jika timing tidak normal?
Jika timing terlalu mundur, tenaga akan turun, mesin cepat panas, dan konsumsi BBM boros. Sebaliknya, jika timing terlalu maju, akan terjadi knocking, mesin ngelitik, dan berisiko merusak piston. Sementara itu, timing tidak stabil bisa mengindikasikan masalah di sensor CKP/CMP atau timing belt/rantai yang sudah aus.
3. Memeriksa Sensor Posisi Poros Engkol (CKP) dan Cam (CMP)
Sensor CKP dan CMP adalah “mata” ECU untuk mengetahui posisi piston dan katup. Tanpa data dari sensor ini, ECU tidak bisa menentukan timing pengapian yang tepat. Akibatnya, mesin bisa mati total atau tidak bisa distarter.
Bagaimana scanner membantu?
Melalui scanner, Anda bisa membaca beberapa hal penting terkait sensor ini:
- Apakah sensor bekerja? Biasanya ditunjukkan dengan adanya RPM signal saat mesin diputar.
- Apakah ada kode error? P0335-P0339 untuk CKP, P0340-P0349 untuk CMP.
- Data real-time (pada beberapa scanner canggih) seperti bentuk gelombang sinyal sensor.
Gejala sensor rusak:
Apabila sensor rusak, mesin bisa mati total dan tidak bisa distarter sama sekali. Dalam beberapa kasus, mesin mati mendadak saat jalan tanpa peringatan. Selain itu, RPM mungkin tidak terbaca di scanner meskipun starter sudah diputar.
4. Mendeteksi Masalah Koil Pengapian
Koil pengapian bertugas menaikkan tegangan baterai (12V) menjadi ribuan volt yang dibutuhkan busi. Koil yang lemah bisa menyebabkan misfire, terutama saat akselerasi atau beban berat.
Bagaimana scanner membantu?
Scanner memiliki beberapa kemampuan untuk mendeteksi masalah koil:
- Menampilkan kode error spesifik koil (P0350-P0360).
- Pada beberapa mobil, menampilkan data misfire counter yang mengarah ke koil tertentu.
- Melakukan active test (pada scanner canggih) untuk menyalakan koil secara manual.
Gejala koil rusak:
Jika koil rusak, akan terjadi misfire di silinder tertentu yang konsisten. Misfire counter akan menunjukkan angka tinggi di satu silinder. Selain itu, kode error P035X (X = nomor silinder) mungkin muncul sebagai konfirmasi.
5. Membaca Data Knock Sensor
Knock sensor mendeteksi fenomena knocking (detonasi) di mesin. Knocking terjadi ketika campuran bahan bakar terbakar tidak pada waktunya, menyebabkan suara “ngelitik” yang bisa merusak piston dalam jangka panjang.
Bagaimana scanner membantu?
Dengan scanner, Anda bisa memeriksa beberapa hal terkait knock sensor:
- Apakah ada kode error knock sensor (P0325-P0334).
- Data knock sensor (pada scanner canggih) – biasanya dalam bentuk nilai atau grafik.
- Timing retard yang dilakukan ECU saat mendeteksi knocking.
Gejala knock sensor rusak:
Apabila knock sensor rusak, ECU tidak bisa mendeteksi knocking sehingga risiko kerusakan mesin meningkat drastis. Timing tidak dimundurkan saat diperlukan, dan performa mesin bisa turun dengan suara ngelitik yang khas. Dalam jangka panjang, hal ini bisa merusak piston dan komponen lainnya.
6. Menganalisis Data Freeze Frame
Freeze frame adalah snapshot kondisi mesin tepat saat kode error pertama kali muncul. Data ini sangat berharga untuk mengetahui apa yang terjadi sebelum dan saat masalah terjadi. Dengan informasi ini, Anda bisa merekonstruksi kejadian dengan lebih akurat.
Informasi yang bisa didapat dari freeze frame:
- RPM saat error terjadi
- Beban mesin
- Suhu mesin
- Vehicle speed
- Fuel trim
- Timing pengapian
Dengan data ini, Anda bisa merekonstruksi kejadian dan mencari penyebab misfire, misalnya apakah terjadi saat idle, akselerasi, atau beban berat. Hal ini sangat membantu untuk menentukan langkah perbaikan yang tepat.
7. Melakukan Active Test pada Sistem Pengapian
Scanner canggih dengan fitur bi-directional control atau active test memungkinkan Anda mengaktifkan komponen pengapian secara manual. Fitur ini sangat berguna untuk diagnosis yang lebih akurat karena Anda bisa menguji komponen secara langsung.
Apa yang bisa di-active test?
Anda bisa menyalakan koil secara individual untuk menguji percikan api. Selain itu, Anda bisa mengaktifkan injector untuk membedakan masalah pengapian dan bahan bakar. Anda juga bisa mengontrol timing untuk melihat respons mesin terhadap perubahan.
Contoh penggunaan:
Misalkan Anda curiga koil silinder 2 rusak. Dengan active test, Anda bisa memerintahkan koil silinder 2 untuk menyala sambil mendengarkan atau menggunakan spark tester. Jika tidak ada percikan, koil dipastikan rusak. Metode ini jauh lebih cepat daripada mengganti komponen secara acak.
Studi Kasus: Masalah Pengapian yang Dipecahkan dengan Scanner
Agar lebih jelas dan aplikatif, saya berikan beberapa contoh kasus nyata yang sering terjadi di bengkel.
Kasus 1: Mobil Brebet, Misfire di Silinder 3
Gejala: Mobil brebet saat akselerasi, lampu check engine menyala. Pemilik sudah mengganti busi tapi masalah tetap muncul.
Langkah Diagnosis dengan Scanner:
Pertama, baca kode error dan muncul P0303 yang menandakan misfire di silinder 3. Kedua, lihat misfire counter dan ternyata silinder 3 menunjukkan angka misfire yang terus bertambah setiap kali mesin dinyalakan. Ketiga, lakukan swapping koil dengan memindahkan koil silinder 3 ke silinder 1. Hasilnya, misfire pindah ke silinder 1.
Penyebab Pasti: Koil pengapian silinder 3 rusak.
Solusi dan Hasil: Ganti koil silinder 3 dengan yang baru. Setelah diganti, misfire hilang dan mesin kembali halus. Pemilik mobil sangat puas karena tidak perlu mengganti semua koil.
Kasus 2: Mesin Mati Mendadak, Tidak Bisa Distarter
Gejala: Mobil mati mendadak saat jalan di tol, tidak bisa distarter lagi. Pemilik panik dan mobil harus diderek.
Langkah Diagnosis dengan Scanner:
Pertama, baca kode error dan muncul P0335 yang menandakan sensor CKP rusak. Kedua, lihat data RPM saat distarter dan ternyata RPM menunjukkan 0, padahal mesin diputar starter.
Penyebab Pasti: Sensor posisi poros engkol (CKP) rusak sehingga ECU tidak menerima sinyal posisi piston.
Solusi dan Hasil: Ganti sensor CKP dengan yang baru. Setelah diganti, mesin hidup normal kembali. Biaya perbaikan hanya beberapa ratus ribu, bukan puluhan juta untuk turun mesin.
Kasus 3: Mobil Ngeltik Saat Akselerasi
Gejala: Muncul suara “ngeltik” dari mesin saat akselerasi, terutama di gigi rendah. Pemilik khawatir mesin akan rusak.
Langkah Diagnosis dengan Scanner:
Pertama, baca kode error dan ternyata tidak ada. Kedua, lihat data knock sensor dan ternyata sensor membaca knocking (nilai tinggi) saat akselerasi. Ketiga, lihat timing pengapian dan ternyata timing tidak mundur saat knocking terjadi, padahal seharusnya ECU memundurkan timing.
Penyebab Pasti: Knock sensor rusak atau kabelnya putus sehingga sinyal tidak sampai ke ECU.
Solusi dan Hasil: Periksa knock sensor dan kabelnya. Ganti sensor yang rusak. Setelah diganti, timing mundur saat knocking terjadi dan suara ngeltik hilang. Mesin kembali aman digunakan.
Kasus 4: Timing Pengapian Tidak Stabil
Gejala: Mesin terasa brebet, idle tidak stabil, tenaga turun. Pemilik sudah mengganti busi dan koil tapi masalah tetap ada.
Langkah Diagnosis dengan Scanner:
Pertama, baca kode error dan ternyata tidak ada. Kedua, lihat data timing pengapian dan ternyata timing naik turun tidak karuan dan tidak stabil meskipun RPM konstan. Ketiga, periksa sensor CKP dan CMP, tidak ada kode error, tapi data mungkin tidak normal.
Penyebab Pasti: Timing belt/rantai melompat satu gigi atau sensor kotor sehingga pembacaan posisi tidak akurat.
Solusi dan Hasil: Periksa timing belt/rantai dan sensor. Setelah timing belt disetel ulang, timing stabil dan mesin kembali halus. Masalah selesai tanpa perlu ganti komponen mahal.
Parameter Real-Time yang Berguna untuk Diagnosis Pengapian
Berikut adalah parameter-parameter penting yang bisa Anda lihat di scanner untuk diagnosis sistem pengapian. Memahami parameter ini akan sangat membantu Anda dalam menganalisis masalah.
| Parameter | Fungsi | Nilai Normal |
|---|---|---|
| Engine RPM | Putaran mesin | 650-850 rpm idle |
| Ignition Timing | Timing pengapian aktual | 5-15° BTDC idle |
| Misfire Counter | Hitungan misfire per silinder | 0 (idealnya) |
| Camshaft Position | Posisi poros cam | Data digital |
| Crankshaft Position | Posisi poros engkol | Data digital |
| Knock Sensor | Deteksi knocking | 0 (idealnya) |
| Calculated Load Value | Beban mesin | 0-100% |
| Vehicle Speed | Kecepatan kendaraan | Bervariasi |
Jenis Scanner untuk Diagnosis Sistem Pengapian
Untuk diagnosis sistem pengapian, Anda membutuhkan scanner dengan kemampuan tertentu sesuai kebutuhan. Berikut adalah jenis-jenis scanner yang bisa Anda pertimbangkan.
Scanner OBD-II Bluetooth + Aplikasi
Ini adalah pilihan terbaik untuk pemilik mobil rumahan. Harganya berkisar Rp 200-500 ribu, sangat terjangkau. Dengan aplikasi Torque (Android) atau OBD Fusion (iOS), Anda bisa melakukan berbagai hal:
- Membaca kode error misfire (P0300-P0308)
- Melihat misfire counter (pada beberapa mobil yang mendukung)
- Melihat data RPM dan timing (jika didukung oleh ECU mobil)
- Membuat grafik untuk analisis lebih mendalam
Kekurangan: Fiturnya terbatas dan tidak semua parameter pengapian tersedia, tergantung pada dukungan ECU mobil.
Scanner Handheld Sederhana
Alternatif lain adalah scanner handheld dengan layar sendiri. Harganya sekitar Rp 300-800 ribu. Alat ini cukup untuk membaca kode error misfire, namun data real-time yang ditampilkan terbatas pada parameter dasar.
Scanner Multisistem (Mid-Range)
Scanner ini bisa mengakses lebih banyak parameter pengapian dan sistem lainnya. Harganya berkisar Rp 1,5-3 juta. Contohnya adalah Autel AL619 atau Launch CRP123. Dengan scanner ini, Anda bisa melihat misfire counter, timing pengapian, dan data sensor CKP/CMP dengan lebih lengkap.
Scanner Profesional dengan Oscilloscope
Untuk diagnosis pengapian tingkat lanjut, scanner dengan built-in oscilloscope sangat membantu. Harganya mencapai Rp 5-20 juta tergantung merek dan fitur. Alat ini bisa melihat bentuk gelombang sinyal sensor CKP/CMP dan koil pengapian, sehingga menjadi pilihan terbaik untuk diagnosis mendalam.
Tips Memilih Scanner untuk Diagnosis Pengapian
Untuk diagnosis sistem pengapian yang optimal, perhatikan beberapa tips berikut ini sebelum membeli scanner.
1. Pastikan Bisa Membaca Misfire Counter
Ini adalah fitur paling penting untuk diagnosis misfire. Scanner yang tidak bisa menampilkan misfire counter per silinder akan sulit digunakan untuk diagnosis misfire yang akurat. Pastikan fitur ini tersedia.
2. Pilih yang Bisa Melihat Data Real-Time Timing
Data timing pengapian sangat penting untuk mengetahui apakah timing sudah tepat sesuai spesifikasi. Pastikan scanner pilihan Anda bisa menampilkan ignition timing dalam derajat.
3. Perhatikan Dukungan untuk Mobil Anda
Beberapa mobil, terutama mobil Eropa, mungkin memerlukan scanner khusus untuk mengakses data pengapian. Oleh karena itu, cek kompatibilitas sebelum membeli dengan membaca review atau bertanya kepada penjual.
4. Fitur Graphing
Fitur grafik sangat membantu untuk melihat pola misfire dan fluktuasi timing dari waktu ke waktu. Dengan grafik, analisis menjadi lebih mudah dan akurat.
5. Update Software
Pastikan scanner yang Anda pilih bisa di-update secara berkala. Hal ini penting untuk mengakomodasi model mobil terbaru dan perbaikan bug pada software.
Analogi Sederhana: Scanner Seperti Dokter Spesialis Jantung
Coba bayangkan sistem pengapian mobil Anda seperti sistem kelistrikan jantung manusia. Jantung memiliki “sistem pengapian” sendiri yang disebut sistem konduksi listrik. Jika ada gangguan, dokter akan melakukan EKG untuk melihat aktivitas listrik jantung dan menentukan bagian mana yang bermasalah.
Scanner mobil berperan seperti EKG untuk sistem pengapian Anda. Alat canggih ini bisa “melihat” aktivitas listrik di dalam sistem, membaca timing, mendeteksi misfire (aritmia), dan mengetahui sensor mana yang bermasalah. Semua informasi ini ditampilkan dalam bentuk data yang bisa Anda analisis.
Dengan scanner di tangan, Anda tidak perlu lagi menebak-nebak apakah misfire disebabkan oleh busi, koil, atau sensor. Anda akan tahu persis akar penyebabnya, sehingga bisa melakukan perbaikan yang tepat sasaran. Hal ini tentu akan menghemat waktu dan biaya perbaikan.
Kesimpulan
Memahami cara kerja scanner mobil dalam mendiagnosis kerusakan sistem pengapian adalah langkah penting bagi setiap pemilik mobil yang ingin merawat kendaraannya dengan baik. Scanner memungkinkan Anda mendeteksi misfire, membaca timing pengapian, memeriksa sensor CKP/CMP, dan menganalisis data knock sensor dengan cepat dan akurat.
Dengan scanner mobil, diagnosis sistem pengapian menjadi lebih cepat, akurat, dan efisien dibandingkan metode konvensional yang hanya mengandalkan tebakan. Anda bisa mengetahui apakah masalahnya terletak di busi, koil, sensor, atau timing tanpa harus membongkar mesin terlebih dahulu.
Diagnosis pengapian mobil yang akurat adalah kunci utama untuk melakukan perbaikan yang tepat sasaran. Anda tidak perlu lagi mengganti komponen secara acak (part guessing) yang bisa menghabiskan jutaan rupiah. Dengan scanner, Anda tahu persis komponen mana yang bermasalah dan harus diganti.
Investasi scanner yang bisa membaca data pengapian tidaklah mahal jika dibandingkan dengan biaya perbaikan akibat salah diagnosis. Dalam satu atau dua kali perbaikan yang tepat, investasi Anda sudah akan kembali berkali-kali lipat.
Saya telah belasan tahun menggunakan scanner untuk diagnosis sistem pengapian. Berdasarkan pengalaman tersebut, saya dapat mengatakan dengan yakin bahwa scanner adalah alat yang paling membantu untuk pekerjaan ini. Tanpa keberadaan scanner, saya hanya bisa menebak-nebak dan berharap tebakan saya benar, yang tentu saja tidak efisien.
Jadi, kalau mobil Anda menunjukkan gejala masalah pengapian seperti brebet, susah distarter, atau tenaga turun, jangan buru-buru mengganti busi atau koil. Lakukan scan dulu dengan scanner yang bisa membaca data pengapian. Atau lebih baik lagi, miliki scanner sendiri yang bisa membantu Anda memahami kondisi sistem pengapian mobil Anda. Percayalah, langkah kecil ini akan menghemat waktu, uang, dan sakit kepala Anda di kemudian hari.
FAQ
1. Apakah semua scanner bisa mendeteksi misfire?
Tidak semua scanner memiliki kemampuan tersebut. Scanner OBD-II sederhana mungkin hanya bisa membaca kode error misfire (P0300-P0308), namun tidak bisa menampilkan misfire counter per silinder. Untuk melihat misfire counter, Anda membutuhkan scanner yang lebih canggih atau aplikasi seperti Torque Pro yang mendukung fitur ini pada beberapa mobil.
2. Berapa biaya scanner yang cukup untuk diagnosis sistem pengapian?
Untuk diagnosis dasar seperti membaca kode misfire dan timing, scanner OBD-II Bluetooth dengan aplikasi Torque Pro (total Rp 300-600 ribu) sudah cukup memadai. Sementara untuk fitur misfire counter dan data yang lebih lengkap, scanner mid-range seperti Autel AL619 dengan harga Rp 1,5-2,5 juta adalah pilihan yang baik.
3. Apakah scanner bisa mendeteksi busi yang aus?
Scanner tidak bisa langsung mengatakan “busi rusak” secara eksplisit. Akan tetapi, scanner bisa mendeteksi misfire dan menunjukkan silinder mana yang mengalami misfire. Dari informasi tersebut, Anda bisa memeriksa busi di silinder yang dimaksud. Scanner juga bisa menampilkan data misfire counter untuk melihat pola misfire yang terjadi.
4. Apa perbedaan misfire counter dan kode error misfire?
Kode error misfire (P0300-P0308) muncul ketika misfire terdeteksi dalam jumlah tertentu dan cukup parah untuk menyalakan check engine light. Sementara itu, misfire counter adalah data real-time yang menunjukkan jumlah misfire yang terjadi, bahkan sebelum cukup parah untuk menyalakan lampu. Dengan kata lain, misfire counter lebih sensitif dan berguna untuk deteksi dini masalah.
5. Apakah scanner bisa menguji koil pengapian?
Scanner tidak bisa menguji koil secara langsung, misalnya dengan mengukur resistansi atau tegangan output. Meskipun demikian, scanner bisa membantu dengan beberapa cara: menampilkan misfire counter yang mengarah ke silinder tertentu, menampilkan kode error koil (P0350-P0360), dan pada scanner dengan fitur active test, bisa menyalakan koil secara manual untuk menguji percikan api.

